Tipe Dere dalam Anime: Arti ”Dere” dan Mesin Kata yang Melahirkan Tsundere, Yandere, Kuudere

Kodak
Hari ini kita bahas satu suku kata yang bertebaran di mana-mana kalau kamu nonton anime: ”dere”(デレ)!

Tsundere, yandere, kuudere, deredere, dandere… semuanya punya ekor yang sama, kan?

Rahasianya ada di sini: ”dere” itu potongan belakang dari kata ”deredere”, yaitu kata tiruan keadaan untuk ”meleleh karena suka”. Dan potongan itu berubah jadi komponen pembuat kata baru yang bisa dipasang ke apa saja!

”Dere” artinya apa? Asalnya sama sekali bukan istilah anime

Banyak orang mengira ”dere” adalah istilah yang diciptakan fandom anime. Padahal bukan.

”Dere” berasal dari kata Jepang ”deredere”(でれでれ), sebuah gitaigo — kata tiruan keadaan — yang artinya ”sikap dan postur tubuh yang kehilangan ketegasannya, jadi lembek dan berantakan”.

Kamus Digital Daijisen mendefinisikannya begini: ”keadaan di mana sikap atau postur tidak ada kencang-kencangnya, jadi lembek”, dan secara khusus ”sikap seorang laki-laki yang jadi nggak karuan di depan perempuan”. Contoh pemakaiannya: josei ni deredere suru(女性にでれでれする)= ”jadi lembek banget kalau di depan cewek”.

Kodak

Bayangkan orang yang biasanya duduk tegak, lalu ketemu orang yang dia suka — bahunya turun, senyumnya nggak bisa ditahan, suaranya jadi aneh sendiri.

Tubuh dan sikapnya ”meleleh, kehilangan bentuk”. Nah, bunyi untuk keadaan itulah ”deredere”!

Yang menarik, kata ini jauh lebih tua dari anime mana pun. Kamus Seisenban Nihon Kokugo Daijiten mencatat contoh pemakaian ”deredere” dari naskah rakugo (seni cerita komedi tradisional Jepang) berjudul Sumida no Najime tahun 1889 — jadi lebih dari 130 tahun yang lalu, di zaman Meiji.

Hah, 1889? Jadi ”dere” itu bukan bahasa otaku dong, tapi bahasa Jepang biasa yang sudah lama ada?
Kodak

Tepat sekali! Itu poin pertama yang penting.

Fandom anime tidak menciptakan kata ”deredere”. Yang mereka lakukan jauh lebih menarik: mereka memotong kata lama itu jadi dua, lalu memakai potongannya sebagai onderdil.

Satu catatan nuansa yang perlu kamu tahu: dalam bahasa Jepang sehari-hari, ”deredere” sebenarnya agak negatif. Nadanya seperti ”lembek”, ”nggak ada wibawanya”, ”kelihatan bodoh karena naksir”.

Tapi begitu masuk ke dunia anime, nilainya terbalik jadi positif — ”dere” justru jadi momen yang ditunggu-tunggu penonton. Momen ketika benteng seorang karakter akhirnya runtuh.

Mesin pembuat kata: [sifat luar] + dere

Sekarang bagian intinya. Kenapa dari satu kata bisa lahir belasan tipe karakter?

Bahasa Jepang punya dua kebiasaan yang, kalau digabung, jadi mesin pencetak kata baru:

  • Kebiasaan 1: kata tiruan sering berbentuk pengulangan. Deredere, tsuntsun, wakuwaku, dokidoki — pola AB-AB di mana-mana.
  • Kebiasaan 2: orang Jepang doyan memendekkan kata (ryakugo/略語). Dari empat suku kata dipotong jadi dua, beres.

Gabungkan keduanya, dan kamu dapat: deredere → dere, tsuntsun → tsun. Tinggal disambung, jadilah tsundere.

Rumus dasar semua tipe dere

[ sikap yang ditunjukkan ke luar ] + [ dere = hati yang meleleh di dalam ]

●ツンツン tsuntsun(judes, ketus)+ デレ deretsundere
●病んでる yanderu(sakit secara mental)+ デレ dereyandere
●クール kuuru(cool, dingin)+ デレ derekuudere
●だんまり danmari(membisu)+ デレ deredandere
●デレ dere(tanpa lapisan luar sama sekali)+ デレ derederedere

Oh! Jadi bagian belakangnya dikunci, terus bagian depannya tinggal gonta-ganti sesuka hati ya?
Kodak

Persis! Ini seperti slot kosong yang menunggu diisi.

”dere” = isi hatinya, selalu sama: suka, sayang, meleleh.
Bagian depan = tutup atau topeng yang dipakai untuk menyembunyikan isi hati itu.

Ganti topengnya, lahir tipe baru. Simpel, tapi kuat banget!

Dan perhatikan satu hal yang sering luput: mesin ini nggak pilih-pilih bahan.

Bagian depan bisa diisi kata Jepang asli (tsun, yan, dan), tapi juga bisa diisi kata serapan dari bahasa Inggriskuu di ”kuudere” itu potongan dari クール kuuru, cara Jepang melafalkan cool.

Kodak

Ini tanda bahwa polanya benar-benar hidup dan produktif, bukan sekadar daftar kata mati yang harus dihafal.

Kalau sebuah pola bisa menerima kata asing sebagai bahan baku, artinya penutur bahasanya sudah menganggap pola itu sebagai alat, bukan sekadar kosakata.

Soal kapan mesin ini pertama menyala: jejak online paling awal untuk ”tsundere” muncul sekitar tahun 2002. Pada 29 Agustus 2002 ada tulisan di forum Ayashii World@Zantei yang memuji karakter Ayu Ohtori dari Kimi ga Nozomu Eien dengan kalimat ”tsuntsun deredere ga ii” (”yang tsuntsun-deredere itu bagus”). Lalu pada November dan Desember 2002, bentuk yang sudah dipendekkan — ”tsundere” — mulai terlihat di 2channel.

Jadi kita bisa melihat proses pemendekannya terjadi dalam hitungan bulan, di depan mata.

Keren juga ya, ada kata yang kelahirannya bisa dilacak sampai tanggalnya.

Macam-macam dere: kenalan dengan lima tipe utama

Sekarang kita lihat isinya satu per satu. Perhatikan bahwa yang berubah cuma bagian depan — dan itu sudah cukup untuk melahirkan karakter yang rasanya benar-benar beda.

1. Tsundere(ツンデレ)— judes di luar, meleleh di dalam

Bahan bakunya: ツンツン tsuntsun. Menurut kamus, tsuntsun berarti ”bersikap ketus, jual mahal, tidak ramah” — nadanya tajam dan runcing, seperti duri.

Karakter tsundere bilang ”Jangan salah paham ya, aku bukannya peduli sama kamu!” sambil tetap membawakan bekal makan siang. Sikap luarnya menolak, tindakannya membelanya.

Kodak

Kunci tsundere adalah urutan waktu: tsun dulu, baru dere.

Dua keadaan itu bergantian, nggak muncul bersamaan. Ingat baik-baik, karena ini yang membedakannya dari yandere nanti!

Mau bedah lebih dalam soal kenapa ”tsun” dipilih dan bagaimana pola ini bekerja di dialognya? Baca di sini: Tsundere Artinya Apa? Bedah Kata dan Karakternya

2. Yandere(ヤンデレ)— cinta yang sudah melewati batas aman

Bahan bakunya: 病んでる yanderu, dari kata kerja 病む yamu = ”jatuh sakit”. Tapi di sini yang sakit bukan badan, melainkan kondisi mentalnya.

Yandere adalah karakter yang perasaan sukanya terlalu kuat sampai merusak dirinya sendiri dan orang lain: posesif ekstrem, cemburu buta, dan sering berujung ke kekerasan.

Tunggu, jadi ”yan” di sini artinya sakit? Bukan ”yan” yang lain gitu?
Kodak

Betul, dari 病む yamu. Huruf kanji 病 itu memang huruf untuk ”penyakit”.

Jadi secara harfiah yandere = ”dere yang sudah sakit”. Nama tipenya sendiri sudah memberi peringatan!

Istilah ini melejit sekitar tahun 2005, lewat karya seperti School Days dan SHUFFLE! — meskipun karakter dengan sifat semacam ini sudah ada jauh sebelum namanya diciptakan.

Selengkapnya soal asal-usul dan ciri-cirinya: Yandere Artinya Apa? Asal Kata dan Ciri Karakternya

3. Kuudere(クーデレ)— suhu dinginnya memang bawaan

Bahan bakunya: クール kuuru = cool dalam bahasa Inggris. Ini satu-satunya dari lima tipe utama yang bagian depannya kata serapan.

Karakter kuudere tenang, datar, bicara seperlunya, ekspresinya minim. Tapi kalau kamu sudah masuk ke lingkaran dalamnya, kelembutannya muncul — pelan, tipis, dan justru karena itu terasa berharga.

Kodak

Bedanya dengan tsundere begini:

Tsundere sengaja bersikap judes untuk menutupi perasaannya — dia berusaha keras.
Kuudere memang begitu dari sananya. Dinginnya bukan topeng, tapi suhu tubuhnya sendiri.

Detail lengkapnya ada di sini: Kuudere Artinya Apa? Karakter Dingin yang Diam-Diam Hangat

4. Deredere(デレデレ)— tanpa tutup sama sekali

Ini yang paling unik secara struktur, karena slot depannya diisi ”dere” juga. Tidak ada topeng, tidak ada lapisan pelindung.

Karakter deredere ceria, hangat ke semua orang, dan tidak pernah menyembunyikan rasa sukanya dari awal sampai akhir.

Lho, kalau begitu deredere kan bentuk aslinya. Kok malah dihitung sebagai ”salah satu tipe”?
Kodak

Pertanyaan bagus banget, dan jawabannya lucu: ”deredere” sebagai nama tipe karakter justru lahir BELAKANGAN, sesudah tsundere populer.

Jadi urutannya: deredere (kata biasa) → tsundere → orang butuh nama untuk ”yang dere terus tanpa fase tsun” → dipakai lagi ”deredere”, kali ini sebagai nama tipe.

Kata induknya balik lagi ke dalam sistem sebagai salah satu anaknya!

Baca pembahasan lengkapnya: Deredere Artinya Apa? Tipe Paling Jujur di Antara Semua Dere

5. Dandere(ダンデレ)— bukan dingin, cuma nggak tahu harus bilang apa

Bahan bakunya: だんまり danmari = ”membisu, tidak mau bicara”.

Karakter dandere hampir tidak pernah bicara duluan. Kalau ditanya pun jawabannya pendek. Tapi begitu dia merasa aman bersama seseorang, kehangatannya keluar dengan cepat.

Kodak

Dandere sering tertukar dengan kuudere, padahal motifnya berbeda:

Kuudere ⇒ diam karena memilih untuk berjarak. Dia baik-baik saja sendirian.
Dandere ⇒ diam karena nggak tahu caranya mendekat. Sebenarnya dia ingin terhubung.

Bedanya tsundere, yandere, kuudere di mana?

Aku masih suka ketuker sih. Ada cara cepat buat bedainnya nggak?
Kodak

Ada! Kuncinya jangan lihat ”galak atau nggak galak”, tapi lihat hubungan antara lapisan luar dan isi hatinya.

Coba tanya satu hal saja: sikap luar dan rasa sukanya itu bergantian, atau muncul bersamaan?

Cara cepat membedakan tiga tipe paling populer

●Tsundere ⇒ BERGANTIAN
Judes dulu, lalu meleleh. Dua mode yang saling gantian, dan penonton menunggu momen pergantiannya.
Pertanyaan kunci: ”Apa dia sedang menyangkal perasaannya sendiri?”

●Yandere ⇒ BERSAMAAN
Sayang dan berbahaya muncul di saat yang sama, dari sumber yang sama. Justru karena terlalu sayang, dia jadi merusak.
Pertanyaan kunci: ”Apa kasih sayangnya bikin ngeri?”

●Kuudere ⇒ DEFAULT-nya memang dingin
Dinginnya bukan pertahanan diri, tapi kepribadian dasarnya. ”Dere”-nya datang sebagai retakan kecil, bukan ledakan.
Pertanyaan kunci: ”Apa dia dingin bahkan ke orang yang nggak ada urusannya dengan cinta?”

Perbedaan tsundere dan yandere ini penting sekali dan sering disalahpahami. Tsundere adalah soal perubahan keadaan — dari mode A ke mode B. Yandere adalah soal ambivalensi — dua perasaan yang bertentangan hidup berdampingan di detik yang sama.

Itu sebabnya tsundere terasa manis, sementara yandere terasa menakutkan, walaupun dua-duanya sama-sama ”menyukai seseorang”.

Ohh, jadi bukan soal seberapa besar rasa sukanya, tapi soal bagaimana rasa suka itu berhubungan dengan sikap luarnya ya.
Kodak

Nah, itu dia inti seluruh artikel ini!

Semua tipe dere punya isi hati yang sama persis. Yang membedakan cuma cara isi hati itu dibungkus.

Kenapa pola ”-dere” terasa asing buat penutur bahasa Indonesia?

Ini bagian yang paling menarik menurut saya. Bahasa Indonesia sebenarnya kaya sekali dengan cara membentuk kata baru — tapi caranya berbeda jenis.

Bahasa Indonesia punya afiks yang sangat produktif

Kamu sudah pakai ini setiap hari tanpa mikir. Dalam tata bahasa Indonesia, afiks (imbuhan) dibagi jadi empat:

  • Prefiks (di depan): me-, ber-, ter-, pe-menulis, bermain
  • Sufiks (di belakang): -an, -kan, -itulisan, mainkan
  • Infiks (disisipkan di tengah): -el-, -er-, -em-, -in-gerigi, gemetar
  • Konfiks (mengapit di depan dan belakang): ke-an, pe-an, per-ankeadaan, pertemanan

Jadi kalau ada yang bilang ”bahasa Indonesia nggak punya sufiks”, itu jelas salah. Kita bahkan punya sufiks serapan yang produktif seperti -wan / -wati: olahragawan, karyawati, ilmuwan, wartawan.

Nah kan, ”-wan” itu kayak ”-dere” dong? Bagian belakangnya tetap, depannya ganti-ganti.
Kodak

Mirip di permukaan, tapi asal-usulnya beda total — dan di situlah letak keunikan ”dere”!

”-wan” masuk ke bahasa Indonesia dari bahasa Sanskerta sudah dalam bentuk imbuhan. Dia memang lahir sebagai onderdil.

Sedangkan ”dere”… dia bukan imbuhan. Dia setengah badan dari sebuah kata tiruan bunyi.

Yang nggak ada di bahasa Indonesia: memotong separuh kata ulang, lalu memakainya sebagai onderdil

Bahasa Indonesia juga punya kata ulang (reduplikasi), dan bahkan punya yang berubah bunyi — namanya dwilingga salin suara. Contohnya kamu hafal semua:

  • bolak-balik
  • mondar-mandir
  • corat-coret
  • compang-camping

Struktur kata-kata ini sangat mirip dengan deredere atau tsuntsun: dua bagian yang berpasangan dan menggambarkan suatu keadaan.

Tapi sekarang coba lakukan hal yang dilakukan bahasa Jepang:

Ambil ”mandir” dari mondar-mandir, lalu pasang ke kata lain untuk membuat nama tipe karakter baru:

”galak-mandir”? ”diam-mandir”?

…nggak jalan sama sekali, kan? Bahkan rasanya bukan seperti bahasa Indonesia.

Begitu juga ”camping” dari compang-camping, atau ”coret” dari corat-coret — kalau dilepas dari pasangannya, maknanya langsung hilang atau berubah jadi kata lain yang nggak nyambung.

Iya sih, aneh banget kedengarannya. Separuh kata ulang itu kayak nggak bisa hidup sendirian ya.
Kodak

Betul, dan itu normal — di kebanyakan bahasa memang begitu.

Yang tidak biasa justru bahasa Jepang: dia mengambil separuh kata tiruan keadaan, memberinya makna mandiri, lalu menjadikannya slot yang bisa diisi berulang-ulang.

Itulah kenapa daftar tipe dere masih terus bertambah sampai hari ini. Mesinnya belum dimatikan!

Bahasa Indonesia memang punya cara membuat kata baru yang santai, misalnya blending seperti mager (malas gerak) atau bucin (budak cinta). Tapi perhatikan bedanya:

Blending Indonesia bersifat satuanmager dan bucin tidak berbagi bagian yang sama, masing-masing berdiri sendiri.

Pola dere bersifat sistematis — semuanya berbagi separuh belakang yang identik, sehingga begitu kamu tahu artinya ”dere”, kamu bisa menebak arti tipe baru yang belum pernah kamu dengar.

Kodak

Dan ini keuntungan praktis buat kamu yang belajar bahasa Jepang!

Lain kali kamu ketemu istilah dere yang asing di kolom komentar, jangan langsung cari terjemahannya. Potong dulu bagian ”dere”-nya, lalu tanya: ”sisa di depan ini kata Jepang apa?”

Sembilan dari sepuluh kali, kamu bakal ketemu jawabannya sendiri.

Rangkuman: tipe dere dalam anime

”Dere” berasal dari ”deredere”, kata tiruan keadaan (gitaigo) untuk sikap yang ”meleleh, kehilangan ketegasan” — bukan istilah anime, dan sudah tercatat sejak tahun 1889
●Fandom Jepang memotong kata itu jadi ”dere”, lalu menjadikannya slot pembuat kata: [sikap luar]+[dere]
Tsundere = tsuntsun (judes) + dere ⇒ dua mode yang bergantian
Yandere = yanderu (sakit mental) + dere ⇒ sayang dan bahaya muncul bersamaan
Kuudere = kuuru (cool) + dere ⇒ dingin sebagai kepribadian dasar, bukan topeng
Deredere = dere + dere ⇒ tanpa lapisan penutup sama sekali
Dandere = danmari (membisu) + dere ⇒ diam karena tidak tahu cara mendekat
●Bahasa Indonesia punya afiks (prefiks/sufiks/infiks/konfiks) dan kata ulang, tapi tidak punya kebiasaan memotong separuh kata ulang lalu memakainya sebagai onderdil kata baru — di situlah letak keunikan pola ”-dere”
Sekarang aku ngerti kenapa istilah-istilah ini kedengarannya ”satu keluarga”. Ternyata memang satu mesin yang bikin!
Kodak

Persis! Dan pelajaran terbesarnya: satu kata bisa berubah jadi alat.

Silakan lanjut ke artikel masing-masing tipe untuk pembahasan yang lebih dalam ya!

Sumber referensi
Digital Daijisen / Seisenban Nihon Kokugo Daijiten, entri「でれでれ」(Kotobank
Digital Daijisen, entri「つんつん」(Kotobank
Wikipedia bahasa Jepang, entri「ツンデレ」dan「ヤンデレ
Nico Nico Pedia, entri「デレデレ」「クーデレ」「ダンデレ
Narabahasa,「Afiks dalam Bahasa Indonesia