Beda Lo Siento, Perdón, dan Disculpa: Kenapa Bahasa Spanyol Butuh Tiga Kata untuk “Maaf”

Kodak
Kalau ada satu pertanyaan yang paling sering muncul dari pemula bahasa Spanyol, jawabannya hampir pasti ini:

“Bedanya lo siento, perdón, sama disculpa apa sih?”

Wajar banget bingung. Soalnya kalau kamu buka kamus, ketiganya diterjemahkan jadi “maaf” semua!

Iya banget! Terus aku jadi mikir, ya udah lah pakai yang mana aja sama aja kali ya?
Kodak
Hehe, godaan itu memang besar. Tapi sayangnya nggak bisa, dan hari ini aku bakal tunjukkan kenapa.

Tenang, ini bukan soal menghafal aturan rumit kok. Begitu kamu lihat dua sumbu yang aku siapkan, semuanya bakal jatuh ke tempatnya masing-masing.

Kenapa satu kata “maaf” nggak cukup di bahasa Spanyol

Mari kita mulai dari akar masalahnya dulu.

Bahasa Indonesia punya maaf, dan kata itu luar biasa fleksibel. Kamu bisa memakainya untuk menyesal, untuk menyapa, untuk berbelasungkawa, bahkan untuk menyela pembicaraan. Tambah permisi sedikit, dan hampir semua situasi sosial sudah tertutup.

Karena terbiasa dengan sistem sehemat itu, kita cenderung berpikir bahwa tiga kata untuk satu makna itu pemborosan. Padahal dari sudut pandang penutur Spanyol, justru sebaliknya.

Kodak
Bagi mereka, ketiga situasi ini memang beda:

• “Aku ikut merasakan kesedihanmu”
• “Aku barusan bikin salah kecil”
• “Aku mau merepotkanmu sebentar”

Coba dibaca ulang. Ini kan tiga hal yang benar-benar berbeda, ya kan? Kebetulan saja bahasa Indonesia menaruh ketiganya di bawah satu payung.

Oh, jadi bukan bahasa Spanyol yang ribet, tapi bahasa kita yang kebetulan hemat ya. Baru kepikiran sih.

Persis. Dan begitu kamu berhenti bertanya “kata Spanyol mana yang artinya maaf”, lalu ganti jadi “situasiku ini masuk kategori yang mana”, semuanya langsung jadi jauh lebih gampang.

Sumbu pertama: ada perasaan di dalamnya atau nggak

Sumbu pertama yang memisahkan ketiganya adalah kehadiran emosi.

Untuk melihat ini, cara paling jitu adalah membongkar arti harfiah tiap kata. Kata-kata ini bukan simbol kosong, isinya masih terasa kok.

Arti harfiah ketiga kata

lo siento = lo (itu) + siento (aku merasakan) → “aku merasakannya”
perdón = kata benda → “ampunan”
disculpa = bentuk perintah dari disculpar“maklumi aku”

Lihat bedanya? Hanya lo siento yang punya kata kerja merasakan di dalamnya. Dua yang lain sama sekali tidak menyebut perasaan.

Ini bukan kebetulan. Inilah alasan struktural kenapa lo siento terasa jauh lebih berat.

Oh, jadi beratnya bukan karena aturan sopan santun, tapi karena kata-katanya emang isinya perasaan ya?
Kodak
Nah, itu dia! Kamu cepat nangkepnya.

Kalau kamu bilang lo siento, kamu sedang mengumumkan “hatiku ikut bergerak karena ini”.

Makanya kalau cuma nyenggol bahu orang di kereta, kalimat itu jadi kegedean. Hatimu kan nggak benar-benar bergerak buat urusan sekecil itu!

Bukti paling kuat: lo siento dipakai saat kamu tidak bersalah

Ada satu fakta yang langsung membuktikan bahwa lo siento bukan sekadar “maaf”.

Kata ini adalah ungkapan standar untuk menyampaikan belasungkawa.

Lo siento mucho.
(Aku turut berduka.)
Siento mucho lo de tu abuela.
(Aku turut berduka soal nenekmu.)

Perhatikan: di situasi ini kamu tidak melakukan kesalahan apa pun. Nggak ada yang perlu dimaafkan. Tapi lo siento tetap kalimat yang tepat.

Kenapa? Karena artinya memang bukan “aku minta ampun”, melainkan “aku ikut merasakannya”. Begitu kamu paham ini, seluruh perilaku kata tersebut jadi masuk akal.

Kodak
Coba pakai perdón di situasi duka. Jadinya aneh banget!

Kamu seolah-olah bilang “ampuni aku” padahal neneknya meninggal bukan karena kamu. Kacau kan?

Hahaha iya, kalau dibayangin gitu jadi lucu. Berarti ini bener-bener beda fungsi, bukan cuma beda tingkat kesopanan.

Sumbu kedua: sebelum atau sesudah kejadian

Sumbu pertama tadi sudah memisahkan lo siento dari dua yang lain. Sekarang kita pisahkan perdón dan disculpa.

Kuncinya adalah waktu.

Sumbu waktu

perdón → dilempar SESUDAH sesuatu terjadi
disculpa → dipasang SEBELUM kamu merepotkan orang

Contoh konkretnya biar kebayang:

[perdón — sesudah]

• Kamu nginjek kaki orang di bus → ¡Perdón!
• Kamu salah sebut nama temanmu → ¡Ay, perdón!
• Kamu nggak denger ucapan lawan bicara → ¿Perdón?

[disculpa — sebelum]

• Mau nanya jalan ke orang asing → Disculpe, ¿dónde está…?
• Mau menyela rapat → Disculpen, una pregunta.
• Mau minta tolong ke teman → Disculpa, ¿me ayudas?

Bentar, yang ¿Perdón? buat “nggak denger” itu kok masuk kategori sesudah? Kan aku mau minta dia ngulang, berarti ke depan dong?
Kodak
Wah, pertanyaannya tajam! Aku suka.

Coba lihat dari sisi lain: yang sudah terjadi adalah kegagalan kamu menangkap ucapannya. Itu “kesalahan kecil” yang sudah terjadi barusan.

Jadi perdón di sini tetap menengok ke belakang, ke momen di mana pendengaranmu meleset!

Ohh, gitu ya. Jadi patokannya bukan apa yang aku mau, tapi apa yang barusan kejadian.

Trik cepat: coba ganti dengan “permisi”

Ini trik praktis yang bisa kamu pakai langsung di lapangan.

Kalau kalimat bahasa Indonesiamu masih terdengar wajar setelah kata “maaf” diganti jadi “permisi”, berarti yang kamu butuhkan adalah disculpa atau disculpe.

“Maaf, mau tanya sebentar.”
“Permisi, mau tanya sebentar.” = masih wajar → pakai disculpe

“Maaf, aku nggak sengaja nyenggol.”
“Permisi, aku nggak sengaja nyenggol.” = aneh → pakai perdón

Sederhana, tapi akurasinya tinggi banget. Cobain deh.

Perdón: kenapa ini yang paling sering dipakai

Kalau kamu perhatikan penutur asli sepanjang hari, kata yang paling sering keluar dari mulut mereka bukan lo siento, tapi perdón.

Ada dua alasan kenapa kata ini begitu dominan.

Alasan 1: dia kata benda, jadi bisa berdiri sendiri

perdón adalah kata benda yang berarti “ampunan”. Karena kata benda, dia tidak butuh subjek, tidak butuh kata kerja, tidak butuh apa-apa.

Kamu tinggal melemparkannya begitu saja: “¡Perdón!” Selesai.

Bandingkan dengan lo siento yang sudah berbentuk kalimat lengkap (subjek tersembunyi + objek + kata kerja). Secara struktur saja, perdón memang lebih ringan.

Alasan 2: jangkauan situasinya paling luas

Kesalahan kecil itu terjadi terus-menerus dalam sehari. Nyenggol, salah dengar, telat sedikit, salah pencet, motong omongan. Semua itu wilayahnya perdón.

Kodak
Kalau kamu benar-benar buntu dan nggak tahu harus pakai yang mana, ambil perdón.

Dia paling jarang bikin kamu terdengar aneh. Anggap saja ini pilihan default kamu!

Selain berdiri sendiri, perdón juga bisa disambung dengan por untuk menyebutkan apa yang kamu sesali:

Perdón por el retraso.
(Maaf atas keterlambatannya.)
Perdón por las molestias.
(Maaf atas ketidaknyamanannya.)
Perdón por no avisarte antes.
(Maaf nggak ngabarin kamu duluan.)

Disculpa: kata yang paling dekat dengan “permisi”

disculpa berasal dari kata kerja disculpar, yang artinya “memaafkan” atau “memaklumi”. Bentuk yang kita pakai ini adalah bentuk perintah, jadi harfiahnya “maklumi aku ya”.

Nuansanya: kamu tahu bahwa kamu akan sedikit mengganggu, dan kamu meminta kemakluman di muka.

Ini mirip banget sama “permisi” ya. Berarti buat orang Indonesia justru yang ini paling gampang dong?
Kodak
Betul banget! Ini keuntungan yang kita punya.

Rasa “aku belum salah apa-apa, tapi aku mau menyapa kamu” itu sudah ada di kepala kamu lewat kata permisi. Tinggal tempelkan ke kata Spanyolnya saja.

Satu hal yang perlu kamu tahu: disculpa punya saudara kembar bernama disculpe. Bedanya cuma huruf terakhir, tapi fungsinya beda.

disculpa → untuk (kamu, akrab)
disculpe → untuk usted (Anda, formal)

Ini satu-satunya tempat di mana faktor “siapa lawan bicaramu” ikut bermain. Tapi perhatikan: yang berubah bukan kata mana yang kamu pilih, melainkan bentuk dari kata yang sama. Dua lapisan yang berbeda.

Wilayah abu-abu: kapan dua kata sama-sama bisa dipakai

Sampai sini pembagiannya terdengar rapi. Tapi bahasa itu makhluk hidup, jadi ada wilayah di mana batasnya kabur.

Aku sengaja bahas ini supaya kamu nggak panik waktu mendengar penutur asli memakai kata yang “salah” menurut aturan di atas.

Abu-abu 1: telat datang

Situasi ini bisa masuk dua kategori sekaligus.

Perdón por el retraso.
→ menekankan bahwa keterlambatan itu kesalahan kecil yang sudah terjadi
Siento llegar tarde.
→ menekankan bahwa kamu benar-benar merasa nggak enak
Disculpe la espera.
→ menekankan permintaan maklum atas waktu tunggu yang kamu sebabkan

Ketiganya benar. Yang beda adalah sudut pandang mana yang kamu sorot. Kalau telatnya lima menit, perdón sudah cukup. Kalau telatnya satu jam dan orangnya kesal, lo siento lebih pas.

Abu-abu 2: minta orang mengulang ucapannya

Ini juga bisa dua-duanya.

¿Perdón? (dengan nada naik)
¿Disculpa? / ¿Cómo?

Dalam praktik sehari-hari, ¿Perdón? adalah yang paling umum. Tapi jangan kaget kalau dengar yang lain.

Jadi nggak sekaku yang aku takutin ya. Agak lega sih.
Kodak
Betul! Yang penting kamu nggak salah jauh.

Kesalahan yang bener-bener bikin dahi mengernyit itu cuma satu: pakai lo siento untuk hal sepele. Selebihnya masih dalam batas wajar kok.

Tabel perbandingan: lihat ketiganya sekaligus

Ini rangkuman visual dari semua yang sudah kita bahas.

Perbandingan tiga ekspresi

lo siento
Harfiah: “aku merasakannya”
Isi: perasaan
Waktu: bebas
Dipakai untuk: penyesalan mendalam, belasungkawa, simpati
Bobot: berat

perdón
Harfiah: “ampunan”
Isi: kesalahan kecil
Waktu: sesudah
Dipakai untuk: nyenggol, salah dengar, telat sedikit, menyela
Bobot: ringan, paling sering dipakai

disculpa / disculpe
Harfiah: “maklumi aku”
Isi: permintaan kemakluman
Waktu: sebelum
Dipakai untuk: menyapa orang asing, bertanya, minta tolong
Bobot: ringan, mirip “permisi”

Latihan: pilih yang paling pas

Yuk uji pemahamanmu. Baca situasinya, pilih dulu di kepala, baru lihat jawabannya.

[Soal]

1. Di supermarket, kamu mau lewat tapi ada orang menghalangi rak.
2. Kamu numpahin kopi ke laptop temanmu.
3. Kamu nggak sengaja menyela waktu bosmu lagi ngomong.
4. Teman sekelasmu cerita dia baru saja gagal ujian penting.
5. Kamu mau minta tolong teman dekat buat pinjemin catatan.

[Jawaban]

1. Disculpe. — kamu belum bikin salah, cuma minta jalan. Persis rasa “permisi”
2. Lo siento mucho. — kerusakannya nyata dan kamu benar-benar menyesal
3. Perdón. — kesalahan kecil yang sudah terjadi
4. Lo siento. — simpati, bukan kesalahanmu sama sekali
5. Disculpa, ¿me prestas tus apuntes? — aba-aba sebelum merepotkan, dan ke teman pakai bentuk -a

Nomor 2 tadi aku sempat ragu antara perdón sama lo siento. Ternyata patokannya seberapa besar kerusakannya ya.
Kodak
Tepat! Laptop itu barang mahal, dan temanmu pasti syok.

Di momen seperti itu, perdón yang ringan justru bisa terdengar nggak peduli. Di sinilah bobot lo siento baru terasa pas.

Rangkuman

• Ketiganya bukan tangga kesopanan, melainkan tiga alat dengan tugas berbeda
• Sumbu 1 (perasaan): hanya lo siento yang mengandung kata kerja “merasakan”
• Sumbu 2 (waktu): perdón sesudah kejadian, disculpa sebelum merepotkan
lo siento juga dipakai untuk belasungkawa, saat kamu sama sekali tidak bersalah
perdón adalah pilihan default paling aman kalau kamu ragu
disculpa/disculpe paling dekat rasanya dengan permisi
• Trik cepat: kalau bisa diganti “permisi”, pakai disculpa/disculpe
Kodak
Gimana, jadi lebih jelas kan?

Yang penting bukan menghafal tabelnya, tapi membiasakan diri bertanya “situasiku ini masuk yang mana?” sebelum ngomong. Lama-lama refleks kok!

Oke, mulai sekarang aku bakal mikir dulu sebelum asal lempar lo siento. Makasih ya!
Kodak
Artikel ini bagian dari pembahasan besar soal ekspresi maaf bahasa Spanyol. Kalau kamu mau lihat gambaran menyeluruhnya, termasuk cara membalas kalau ada yang minta maaf ke kamu, cek artikel utamanya ya!

Cara Minta Maaf dalam Bahasa Spanyol: Panduan Lengkap untuk Pemula

Referensi
Wiktionary, “lo siento” (https://en.wiktionary.org/wiki/lo_siento)
Wiktionary, “perdonar” (https://en.wiktionary.org/wiki/perdonar)
Wiktionary, “permisi” (https://en.wiktionary.org/wiki/permisi)
SpanishDict, “disculpe” (https://www.spanishdict.com/translate/disculpe)